Minggu, 31 Maret 2013

Kurikulum Kursus Pembina Mahir (KMD)

Sejak tahun 2011, Kwartir Nasional telah melakukan perubahan tentang pedoman kursus bagi Pembina Pramuka Mahir baik tingkat dasar maupun lanjutan. Perubahan ini dilakukan dalam rangka upaya peningkatan pendidikan kepramukaan dan sebagai langkah nyata revitalisasi Gerakan Pramuka sehingga Pusdiklat mampu menyediakan Tenaga pendidik yang berkualitas.
Kurikulum dan materi kursus disesuaikan dengan keadaan masa kini, yang merupakan penyempurnaan dari pedoman kursus pembina sebelumnya  ( No. 090 tahun 2001).
Berikut ini adalah kurikulum berdasarkan Surat Keputusan Kwartir Nasional nomor : 200 tahun 2011 tentang Pedoman Panduan Kursus Pembina Pramuka Mahir.
Image

ENSIKLOPEDIA PRAMUKA: Kerajinan Tangan : Membuat Kreasi dari Botol Bekas...

ENSIKLOPEDIA PRAMUKA: Kerajinan Tangan : Membuat Kreasi dari Botol Bekas...: Pengantar Dalam kehidupan sehari-hari banyak ditemukan berbagai bentuk botol kemasan yang sangat menarik, baik untuk kemasan minuman,...

Kamis, 28 Maret 2013

Mainpo Aliran Silat Khas Cianjur Ramaikan ISPC 2013


841304_Mainpo (2) copy.jpg

Mainpo aliran silat yang terlahir di bumi Cianjur ramaikan malam pertama kegiatan International Scout Peace Camp Tahun 2013 (ISPC 2013) di Sub Camp desa Sukaratu, Cianjur, Jawa Barat. Malam Seni Budaya Khas Sunda ini dilaksanakan di lapangan utama Desa Sukaratu, tempat peserta dan warga sekitar bisa melihat secara langsung hiburan yang banyak dinantikan warga sekitarnya.         
Mainpo merupakan aliran silat yang terlahir di bumi Cianjur yang diciptakan  Raden Haji Ibrahim atau yang lebih terkenal dengan panggilan Mamak Haji Ibrahim. Mamak Haji Ibrahim merupakan keturunan Kadaleman Cianjur.
Meskipun berupa kesenian silat, Mainpo digunakan untuk membela diri bukan untuk menyerang orang atau memulai perkelahian. Motto Mainpo adalah untuk membela diri, bukan untuk mencelakakan lawan, tetapi untuk melindungi lawan.
Tak kalah menariknya sajian Rampak Gendang mampu mengibur para peserta ISPC 2013 yang sejak tiba di Desa Sukaratu hingga menjelang sore terus diguyur hujan yang cukup deras. 
Rampak Gendang merupakan tarian yang dibawakan oleh sekelompok wanita dengan instrumen gendang. Kelompok wanita ini menunjukkan kepiawaian mereka dalam menabuh gendang.
Sajian terakhir yang cukup menghebohkan adalah tampilnya tarian Jaipongan. Tampilnya Jaipong Kembang Boled dan Jaipong Kembang Tanjung yang  menggoda mengundang minat peserta untuk ikut menari bersama. Peserta ISPC dari beberapa negara tampak ikut asik menari Jaipong di tengah lapangan. Mereka mengikuti gerakan para penari yang melenggak-lenggok mengikuti irama musik, sehingga malam itu suasana semakin semarak dan meriah.
Menurut Nurlaila, salah satu penari Jaipong dari sanggar seni Kutalaras, menari adalah suatu hal yang menyenangkan. Ia bersama temannya, Siti Khamsah, telah menekuni dunia tari Jaipong sejak duduk di bangku SMA. Mereka belajar menari Jaipong di sekolah seni SMKI Bandung. Selain menambah penghasilan, kemampuan menari Jaipong mereka telah membawa mereka ke Bali bahkan hingga ke negeri sebrang sebagai duta kesenian dan budaya. (MA)

Jauh-jauh dari Kenya untuk Bermain Rampak Bedug di Lereng Gunung Karang

116665_8.jpg
Dipegangnya pemukul bedug sambil mengikuti irama tabuhan. Nancy, asal Kenya, peserta International Scout Peace Camp 2013 (ISPC 2013), bergerak-gerak dengan kawan dari negara lainnya. Tertawa riang mengiringinya. Ada tujuh bedug dari bonggol kayu kelapa berwarna biru yang dipukul untuk memunculkan bunyi rampak di halaman peternakan domba. Mereka diajari oleh pemuda Desa Juhut, Kecamatan Karang Tanjung, Pandeglang, di lereng Gunung Karang. Udara sejuk sedikit mendung, baru saja hujan, tanah becek, dan lahan sempit. Namun, mereka asyik memainkan gerakan tari rampak bedug. Penonton yang terdiri atas peserta lainnya, anak-anak kampung, dan para orang tua tertawa melihat gerakan yang terasa masih belajar itu. Rabu, 27 Maret 2013, menjadi kenangan bagi Nancy.
Itulah salah satu kegiatan di Subcamp Kampung Domba, begitu biasa disebut. Permaina itu dilakukan setelah sepagi mereka berkegiatan di tengah kampung. Ada yang mengolah talas menjadi camilan, melihat biogas dari kotoran domba, mencermati peternakan domba, menjelajah situs, dan memberikn pendidikan singkat ke anak-anak penduduk. Perdamaian ternyata tidak sebatas hanya diomongkan melainkan dilakukan dalam kegiatan nyata.
Pramuka penegak dari 30 negara asyik menikmati kehidupan alamiah di pedesaan sambil membawa pesan perdamaian. Tentu, kegiatan seperti itu perlu dilakukan dengan rutin agar dunia dalam warna damai. Saling canda, tukar bahasa, tukar suvenir, tukar pengalaman akan memberikan tambahan wawasan etersendiri baginya. Kelak, mereka menjadi pemimpin tentu, pengalaman itu akan diterapkan dalam kehidupan nyata yang penuh perdamaian. Mereka terbagi di tiga tempat, yakni Situ Babagan, desa wisata Betawi di jakarta Selatan; Gunung Padang Cianjur; dan Kampung Domba, Desa Juhut, Karang Tanjung, Pandeglang. Kegitan ISPC berada di Cibubur, pedesaan, Taman Mini, dan kembali lagi ke Cibubur.
Bunyi bedug bersahutan dengan pukulan yang berirama. Nancy, terus saja memukul bedug meskipun kawan lain sudah menghentikan pukulannya. Itu pertanda bahwa, Nancy, gadis Kenya yang menjadi peserta ISPC itu sangat senang denga tetabuhan bedug. “Well. I like this,” ujar Nancy denga rambut keriting lembut disanggul karet. Sumber: Kompasiana

Felipe De Paulo, Sebarkan Semangat Perdamaian


251096_paulo.jpg

Saat menuju booth exhibition and GDV, Felipe De Paulo, Youth Advisor to The World Scout Committee menyampaikan pendapatnya tentang International Scout Peace Camp (ISPC). Pramuka asal kanada ini sangat senang dengan inisiatif ISPC dan mengharapkan seluruh peserta setelah mengikuti ISPC menjadi lebih toleran terhadap perbedaan. Felipe mendefinisikan perdamaian sebagai sikap toleransi terhadap perbedaan. Toleransi ini mampu membangun jembatan penghubung antar personal.
Felipe yang telah belajar bela diri silat selama lima tahun ini mengakui sangat senang berada di Indonesia. Walau terasa panas dan tidak ada musim salju di sini, Felipe tetap merasa senang. Felipe yang menjadikan pramuka sebagai filosofi hidupnya berpesan kepada seluruh anggota pramuka untuk terus melanjutkan usaha, perjuangan dan penyebaran semangat perdamaian. “Dan yang paling terpenting, selalu bahagia” ucap Felipe. (BS)

Simon Rhee: Jadilah Seorang Pramuka yang Menginspirasi

664844_simon Rhee.jpg
Saat upacara pembukaan International Scout Peace Camp, Simon Rhee, the chairman of the World Scout Comitte mengatakan Indonesia harus bangga sebagai negara dengan anggota pramuka terbesar di dunia. Simon dengan ramah mengucapkan salam, dalam berbagai bahasa “Assalamu’alaikum warhamatullahi wabarakatuh… Selamat Pagi… Good morning.. Salam Pramuka.. Aniyoung Haseo..”. Sapaan itupun disambut dengan suara riuh tepuk tangan seluruh peserta dari berbagai latar budaya dan bahasa.
Simon sangat senang berada di tengah-tengah 500 peserta ISPC yang telah datang dari berbagai penjuru dunia. “ Selamat datang kepada seluruh peserta baik yang datang dengan pesawat, perahu, kereta, mobil maupun transportasi lain” sapa Simon. Simon berpendapat, dengan mengenal satu sama lain lebih dalam, kita semakin memahami satu sama lain. Memahami perbedaan dan menghargai adanya perbedaan secara langsung telah membantu menyebarkan pesan perdamaian dunia.
International Scoup Peace Camp ini diorganisir berdasarkan inisiatif Messenger  of Peace (MoP). MoP sendiri diinisiatifkan oleh Raja Arab Saudi dan Raja Swedia pada tahun 2011. Simon sangat bangga kepada Gerakan pramuka Indonesia yang telah mampu mengadakan ISPC serta untuk keramahan yang telah diberikan kepada seluruh peserta yang hadir. Simon berharap seluruh peserta dapat menikmati acara perkemahan ini dan terus mengenang pesan yang dikandung dalam perkemahan ini. Bukan hanya saat mereka akan kembali ke negara masing-masing, tetapi hingga dalam seluruh kehidupan mereka. Simon juga berpesan kepada seluruh peserta, sebagai agen MoP, untuk menyebarkan pesan “love and peace” kepada  teman, keluarga dan siapaun yang mereka kenal. Simon juga menyarankan kepada seluruh peserta untuk menshare, menyebarkan dan berbagi ide tentang kegiatan penyebaran perdamaian yang telah dilakukan baik via media social, maupun melalui link yang tercipta melalui perkemahan ini.
Simon menutup sambutan pada upacara pembukaan ini dengan mengatakan, “Scouting spreads candle light along the way as long as you are life, Satu Pramuka Untuk Satu Indonesia, Tepuk pramuka!” dan gemuruh tepuk pramuka menggaung di seluruh lapangan upacara. (BS)

Mengenal Tokoh Sang Pemula, RM. Tirtoadisuryo


 
Tak banyak orang Indonesia yang tahu bahwa RM. Tirtoadisuryo merupakan salah satu tokoh pergerakan nasional pada jaman penjajahan Belanda. Jika tidak karena jasa sejarawan Pramoedya Ananta Toer yang menuliskan kisah RM. Tirtoadisuryo dalam 4 roman fenomenal sebagai saksi  sejarah, mungkin nama RM. Tirtoadisuryo akan terkubur dalam kenangan masa lalu. Siapakah RM. Tirtoadisuryo? Mari kita mengenalnya lebih dekat.
Tirtoadisuryo adalah orang yang turut serta mengukir sejarah Indonesia. Pada jaman pergerakan, ia seusia dengan RA. Kartini. Tirtoadisuryo lahir di Blora 1880 dan meninggal 7 Desember 1918, merupakan seorang priyayi cukup tinggi. Ayahnya yaitu Raden Ngabehi Muhammad Chan Tirtodipuro (petugas pajak), sedangkan kakeknya Raden Mas Tumenggung Tirtonoto, Bupati Bojonegoro.
Tirtoadisuryo memiliki sifat yang ulet dalam menyampaikan gagasannya mengenai Indonesia. perjuangannya hampir sama dengan RA. Kartini yaitu ingin sebuah pergerakan dalam diri Indonesia. Tirtoadisuryo pandai memanfaatkan kesempatan yang saat itu dibuka oleh  rezim kolonial dalam bidang sosial-ekonomi dan politik. Tirtoadisuryo berhasil mempelopori perubahan di berbagai aspek bidang khususnya di bidang jurnalistik, pengorganisasian rakyat, bisnis, dan gerakan penyadaran tentang emansipasi rakyat yang tertindas.
Profesi pertama yang dijalani Tirtoadisuryo adalah sebagai wartawan inlander. Sebagai seorang jurnalis, ia memjembatani perjuangan rakyat  Indonesia agar tidak kehilangan jati diri dan martabat bangsa karena pengaruh imperialisme dan kolonialisme. Melalui tulisan-tulisannyalah ia berusaha merubah jalan pemikiran rakyat menuju pergerakan dan kesempurnaan. Salah satu bentuk pergerakan yang dilakukan Tirtoadisuryo adalah membebaskan segala bentuk pekerjaan dari sistem kepegawaian yang dibentuk kolonial. Hal ini sangat merugikan rakyat pada umumnya serta menguntungkan bagi para priyayi yang bercokol di administrasi kepegawaian pada jaman itu. Tirtoadisuryo menginginkan kebebasan di bidang perdagangan, bekerja di kebun, dan kerajinan untuk melatih kemandirian di kalangan pribumi.
Karier Tirtoadisuryo sebagai jurnalis banyak terekam dalam kegiatannya yang luar biasa, baik dalam kegiatan tulus-menulis, maupun saat mengelola persuratkabaran. Dalam perjalanan kariernya sudah berhasil mengelola sekitar 14 terbitan yang di dalamnya dia juga berperan sebagai pemimpin dan penulis tetap. Yaitu Pembrita Betawi, Soenda Berita, Medan Priyayi, Soeloeh Keadilan, Poetri Hindia, Sarotomo, Soeara B.O.W., Soeara Spoor dan Tram, Soearaurna. Dalam sejarah Indonesia, ia merupakan kepala redaktur di perusahaan penerbitan di sebuah Hindia Belanda.
 
 
Pada Tahun 1909 di Batavia, Tirtoadisuryo mendirikan Sarekat Dagang Islamiyah, yang kemudian ia  disebut sebagai nominal founder dari Sarekat Islam yang berawal dari Sarekat Dagang Islam. Kemudian pada tahun 1911 mendirikan Sarekat Dagang Islam di Bogor 1911. Ia juga melebarkan sayap SDI di kota Solo sebagai cabang Bogor yang kemudian diketuaki oleh Samanhudi sebagai the real leader. Tirtoadisuryo juga berperan dalam mendirikan Sarekat Priyayi (1906) yang bertujuan untuk memajukan pendidikan pribumi Jawa. Adapun Sarekat Priyayi akhirnya dijadikan basis mengelola koran mingguan yang ia ciptakan yaitu Medan Priyayi pada tahun 1907-1912. Melalui Medan Priyayi inilah ia banyak mengemukakan keluhan-keluhan rakyat kecil terhadap perlakuan kalangan priyayi tinggi dan para pegawai pemerintah kolonial Belanda.
Tirtoadisuryo adalah seorang yang mampu melintasi batas dan tidak berkutat saja dalam kubangan jebakan status quo zamannya. Ia berpikiran merdeka yang benar-benar paham makna perubahan zaman untuk  sebuah pergerakan. Sifatnya yang berani itulah yang menjadikan ia sebagai tonggak sejarah pergerakan baru Indonesia sehingga lahir pergerakan-pergerakan lain untuk memperjuangan kemerdekaan Indonesia pada saat itu. Itulah mengapa ia dijuluki Sang Pemula oleh Pramoedya Ananta Toer.
 
Sumber: id/wikipedia.org & Bumi Manusia (Pramoedya Ananta Toer)